Welcome visitors to my blog 'Dakwah Bil Qolam'Warnai Duniamu Untuk Akhiratmu' By Danang Muslim

Orang Tuaku Kebanggaanku

Teladan sekaligus pahlawan dalam keluarga adalah orang tua. Bagaimana Orang tua menjadi sosok pribadi yang diharapkan bagi anaknya.

Yuk Jaga Kesehatan Jasmani dan Rohani

Penyakit selalu mengintai pada tubuh dan jiwa yang kotor. Jika sehat secara jasmani itu kaya, tapi jika sehat secara jasmani rohani baru dikatakan kaya raya. Bagaimana kiat-kiat agar sehat jasmanai rohani?

Refleksi Semangat Muharram Dalam Membentuk Guru Profesional

Guru adalah teladan sekaligus ruh bagi muridnya. Maka bagaimana menjadi seorang Guru yang profesional?

Masa Depanku ditangan Orang tuaku

Anak adalah amanah dari Allah Swt. Seperti apakah Orang tua melaksanakan amanah-Nya untuk masa depan anak?

Berpengetahuan Luas karena Membaca

Prestasi dapat diraih karena diawali membaca. Membaca apakah dapat meningkatkan pengetahuan?

Sabtu, 03 Oktober 2015

Yuk, Menjaga Kesehatan Jasmani dan Rohani


        
    Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita membutuhkan jiwa dan raga yang sehat untuk melaksanakan aktivitas  yang akan kita selesaikan. Jiwa yang sehat belum mampu melakukan aktivitas ibadah sehari-hari secara optimal, apabila raga sedang sakit dan begitupun sebaliknya. Pertanyaannya ialah apakah kita bisa menjamin kesehatan jiwa dan raga  agar tetap terjaga utuh?. Realitanya di masyarakat kita, masih banyak yang mengalami masalah kesehatan tersebut. Hal itu terjadi karena salahnya gaya hidup individual masing-masing.

Mari menjaga kebersihan
      Begitu indahnya bila kita melihat anjuran dalam Islam. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya-nya, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif, harmonis, jelas dan logis antar sesama makhluk. Bersih adalah kondisi sesuatu yang bebas dari hal yang kotor. Dan untuk menjaga kondisi bersih tersebut harus dijaga dan dirawat dari hal-hal yang kotor, yang dapat dihinggapi oleh kuman serta menjadi sarang penyakit.
          Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. Yaitu istilah thaharah, nazhafah, tazkiyah, dan fitrah. Thaharah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan badani sebagai syarat untuk melaksanakan ibadah. Nazhafa biasanya gunakan untuk menyebut lingkungan sekitar yang bersih. Tazkiyah digunakan untuk menyebut kebersihan sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan fitrah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan holistik umat manusia berkenaan dengan keyakinan dan jiwa. Semua hal tersebut mengandung makna bersih zahir dan batin.
        Dalam ajaran Islam, bersih zahir tidak cukup tetapi dalamnya pun harus suci. Karenanya sesuatu yang tampak luarnya bersih masih harus juga disucikan batinnya. Contoh, orang yang hendak melaksanakan shalat tidak cukup hanya bersih, tetapi juga harus suci. Suci zahir saja tidak cukup tetapi juga harus suci dari najis yang sifatnya batin, yaitu suci dari hadats kecil dan hadats besar. Bahkan seorang hamba yang hendak menyempurnakan beribadah kepada Allah harus bersih dari perbuatan dosa, maka ia harus bertaubat, beristighfar dan berbuat baik. Karenanya, makna bersih amat holistik yang menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat
     Kebersihan dalam pandangan Islam sangat erat hubungannya dengan kesehatan. Karenanya tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sehingga mampu menjadi umat pilihan dan khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. “Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia”. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya kesehatan untuk menjalankan agama secara sempurna.

Islam Mengajarkan Kebersihan
       Allah SWT memerintah hambanya untuk melaksanakan ibadah dengan ketentuan bersuci. Ini menunjukkan bahwa keduanya tak dapat dipisahkan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Antara ibadah dan suci terdapat hubungan yang erat dan timbal balik, di mana kesucian dianggap sebagai ibadah, dan ibadah itu sendiri dianggap tidak sah atau sempurna tanpa melalui kebersihan suci.
        Al-Quran menjadikan kebersihan sebagai sarana untuk menentukan kualitas ibadah. Karenanya, kebersihan selalu dijadikan sebagai syarat dari suatu ibadah baik kesucian lahiriyah maupun batiniyah. Kesucian lahiriyah berorientasi kepada sah dan tidak sahnya suatu ibadah, sedangkan kebersihan bathiniyah lebih terfokus kepada kesempurnaan suatu ibadah yaitu diterima atau tidak diterima. Kaitan yang erat ini seharusnya dapat dijadikan budaya dalam kehidupan karena pelaksanaan ibadah rutin dilaksanakan setiap hari.
        Suatu contoh keterkaitan antara pelaksanaan ibadah dengan kesucian adalah rukun Islam berupa shalat, zakat, puasa dan haji. Hal yang paling menarik dari ibadah-ibadah ini ialah adanya penentuan syarat-syarat suci sebelum pelaksanaan ibadah dan tujuan suci yang hendak diraih. Syarat-syarat ini pada umumnya mengarah kepada sifat bersih baik lahir maupun batin.
       Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata mengandung makna yang banyak aspek, seperti aspek kebendaan, aspek harta dan aspek jiwa. Thaharah (suci) bermakna bersih dari kotoran yang najis. Maka tidak heran jika kitab-kitab fikih Islam menempatkan bab thaharan diawal, sebelum membahas shalat. Dalam kitab suci Al-qur’an banyak ayat yang menganjurkan unntuk bersuci. Allah berfirman: “Dan pakaianmu bersikanlah” (QS.Al Muddatsir ayat: 4). “Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang bertaubat dan orang – orang yang mermbersikan diri”. ( QS. Al baqarah:222 ).
        Ada dua makna dalam mengartikan suci, yaitu suci dari hadats dan suci dari najis. Hadats dan najis merupakan sesuatu yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti shalat. Hadats berbeda dengan najis karena hadats berarti keadaan dan bukan suatu benda atau zat tertentu, sedangkan najis berarti benda atau zat tertentu dan bukan suatu keadaan.
         Tazkiyah atau zakat berkonotasi kesucian harta dan jiwa. Al-Quran mengungkapkan bahwa kata zakat seakar dengan tazkiyah. Ialah zakat mal untuk membersihkan harta bagi para muzakki sehingga harta yang dizakati adalah bersih dan yang tidak dizakati dinilai kotor, sedangkan zakat fitrah adalah untuk membersihkan fitrah para muzakki dari segala kotoran yang membelenggu.
        Contoh keterkaitan bersih dari suci dengan ibadah adalah ibadah. Shalat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan setiap hari pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam ibadah shalat diperintah untuk bersuci sebelum melakukanakannya. Para ulama memberikan rincian tentang bersih dari suci ini, mulai dari bersih diri, pakaian dan tempat pelaksanaan shalat. Perintah agar bersih dari suci sebelum melakukan shalat terdapat dalam Q.S. Al-Maidah ayat 6 yang populer disebut dengan wudhu’. Adapun anggota-anggota tubuh yang wajib untuk dibersihkan ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, sunnah mengusap kedua daun telingan, wajib membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
        Kedudukan fiqh Islam dalam ibadah adalah mengatur tata cara pengabdian manusia kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Suci dan Maha Bersih, dan karenanya pengabdian ini tidak akan membuahkan hasil yang baik jika manusia tidak mensucikan dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Artinya, sifat-sifat Allah yang bersih dan suci hanya dapat diinternalisasi oleh orang-orang yang bersih dan suci. Bila kebersihan dikaitkan dengan ibadah sebagaimana disebutkan Al-Quran dalam kasus ibadah shalat, berarti menjaga kebersihan termasuk sesuatu yang diwajibkan, sama halnya dengan kewajiban shalat itu sendiri. Ini juga termasuk salah satu alasan para ulama ketika mengeluarkan kaidah fiqh: “mala yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib”. Artinya ‘apabila suatu kewajiban tidak sempurna tanpa melibatkan sarana yang lain, maka sarana yang lain itu juga hukumnya adalah wajib’.

Urgensi Kebersihan dan Kesehatan
       Islam tidak membiarkan manusia di alam ini terbelenggu dalam persoalan yang tidak dapat dipecahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik”. (QS. Ali Imran: 179)
        Landasan nilai tauhid mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup bersih dan sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan dari najis, hadats kecil, janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik dan jiwa. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air setelah buang air kecil atau buang air besar. Adapun, ibadah puasa memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan.
       Dari hidup bersih menuju hidup sehat. Islam mengantisipasi sesuatu yang mengganggu kesehatan, yaitu penyakit. Penyakit dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang harus diberantas. Sebab, orang yang terjangkit penyakit pastilah mengganggu pelaksanaan ibadah secara sempurna dan menghambat produktifitas manusia. Islam mengajarkan pengobatan, tetapi Islam lebih menekan pada pencegahan terkena penyakit.
           Oleh karena itu, perlu umat Islam mempunyai perspektif bahwa membangun kesadaran hidup bersih, sehat dan mengobati penyakit adalah bagian dari dakwah Islam. Karena itu, salah satu tujuan dari ajaran Islam ialah menghilangkan kemadharatan atau bahaya (daf’u al-dharar) yang menimpa manusia baik bahaya yang mengancam fisik maupun psikis. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT yang mengabdi kepada-Nya- di muka bumi ini dengan baik. Jika kondisi fisik atau psikis seseorang tidak sehat tentu ia tidak akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah kesehatan dan menganjurkan agar manusia menjaga kesehatan.
            Di samping itu, untuk mencapai tubuh yang sehat, dalam pandangan Islam tidak cukup hanya mengandalkan faktor internal tubuh manusia saja, tetapi juga faktor lingkungan. Sebaik apapun makanan yang dikonsumsi manusia, jika lingkungannya tidak sehat atau tidak bersih, maka ancaman penyakit masih tetap besar. Karena penyakit bisa datang melalui makanan yang dikonsumsi, udara, hewan dan lingkungan yang kotor.
Yuk hidup bersih dan sehat
        Dua konsep Islam tentang kebersihan dan kesehatan sangat tepat untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Karena untuk menjadi manusia yang produktif dan kreatif prasyaratnya harus bergaya hidup bersih dan sehat.
Wallahu a'lam Bisshowab


Berpengetahuan Luas Karena Membaca


       
  Dalam dunia pendidikan, seorang siswa dan mahasiswa (peserta didik) tidak akan terlepas dari kegiatan membaca. Begitu pula dengan seorang guru (tenaga pendidik). Karena membaca adalah cara mempermudah memahami ilmu yang akan di pelajari dan yang akan dicapai. Dan keberhasilan prestasi belajar sebagian besar diawali karena tingginya minat baca sendiri. Membaca adalah kegiatan yang dilakukan berupa penerjamahan simbol atau huruf ke dalam kata dan kalimat yang memilki makna bagi seseorang. Tujuan umum orang membaca adalah untuk mendapatkan informasi baru[1]Sebagaimana wahyu pertama kali yang diturunkan oleh Allah Swt dalam Al Qur’an Surat Al Alaq ayat 1-5  kepada nabi Muhammad Saw, yang berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al Alaq 30:1-5)[2].
Iqra’ dalam ayat tersebut, oleh Quraish Shibab diartikan dengan bacalah, telitilah, dalamilah, dan ketahuilah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa gemar membaca sebagai pemahaman awal, yang kemudian akan mendapatkan kemudahan dalam  proses mempelajari ilmu atau mata pelajaran. Dengan membaca, pasti akan mendapatkan pengertian dan pengetahuan baru, wawasan semakin luas sehingga akan mendapatkan kecerdasan pada dirinya sendiri dan bermanfaat kepada orang lain. Contoh kecil dalam dunia pendidikan, seorang siswa yang tidak berminat gemar membaca, mustahil dalam proses belajarnya berhasil dengan baik, sehingga optimalisasi prestasi belajarnya di bawah standar nilai yang ditentukan oleh gurunya.

Membaca adalah jendela dunia
      Membaca adalah satu aktivitas yang memiliki segudang manfaat. Sedikitnya ada tujuh manfaat yang dapat saya uraikan.[3]
       Pertama, melatih kemampuan berpikir. Otak ibarat sebuah pedang, semakin diasah akan semakin tajam. Kebalikannya jika tidak diasah, juga akan tumpul. Dengan cara ini otak akan bertambah kuat. Bacalah buku sebanyak mungkin. Menurut para ahli, keuntungan dari membaca buku dapat memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak kita. Membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kosakata.
      Kedua, Meningkatkan Pemahaman. Contoh nyata dari manfaat ini banyak dirasakan oleh siswa maupun mahasiswa. Di mana membaca dapat meningkatkan pemahaman dan memori, yang semula tidak mereka mengerti menjadi lebih jelas setalah membaca. Logika sederhana saja, tidak mungkin siswa atau mahasiswa memahami materi pelajaran/kuliah kalau mereka tidak membaca. Dari sini jelas bahwa membaca sangat berperan dalam membantu seseorang untuk meningkatkan pemahamannya terhadap suatu bahan/materi yang dipelajari.
      Ketiga, Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Manfaat yang satu ini mungkin sudah sering kita dengar semenjak kita masih kecil. Kita pasti ingat berapa kali guru-guru kita mengingatkan bahwa membaca adalah satu sarana untuk membuka cakrawala dunia. Dengan memiliki banyak wawasan dan ilmu pengetahuan, kita akan lebih percaya diri dalam menatap dunia. Mampu menyesuaikan diri dalam berbagai pergaulan dan tetap bisa servive dalam menghadapi gejolak zaman.
    Keempat, mengasah kemampuan menulis. Selain menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, memebaca juga bisa mengasah kemampuan menulis Anda. Selain karena wawasan Anda untuk bahan menulis semakin luas, Anda juga bisa mempelajari gaya-gaya menulis orang lain dengan membaca tulisannya. Lewat membaca Anda bisa mendapatkan kekayaan ide yang melimpah untuk menulis.
     Kelima, mendukung kemampuan berbicara di depan umum. Membaca adalah aktivitas yang akan membuka cakrawala dan pengatahuan anda terhadap dunia. Terbatasnya jangkauan diri kita terhadap peristiwa-peristiwa di dunia, hanya bisa dijangkau dengan membaca. Selain mendapatkan informasi tentang berbagai peristiwa, membaca juga mampu meningkatkan pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal, karena membaca akan memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata. Meningkatnya pola pikir, kreativitas dan kemampuan verbal akan sangat mendukung dalam meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.
    Keenam, meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.
   Ketujuh, sarana refleksi dan pengembangan diri. Kita dapat mengetahui pemikiran seorang pengusaha atau seorang trainer tanpa kita harus menjadi pengusaha atau trainer. Artinya kita bisa mempelajari bagaimana cara orang lain dalam mengembangkan diri. Ini penting bagi kita sebagai bahan pertimbangan atau pembanding sebelum kita melakukan suatu hal.
Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar
         Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan  penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Dalam undang-undang  Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, social, emosional, dan kejiwaan peserta didik[4]. Jika dilihat keterangan tersebut, hakikat perpustakaan sekolah adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi belajar bagi warga sekolah. Perpustakaan sekolah apabila dikaitkan dengan pengertian sumber belajar, maka perpustakaan merupakan salah satu dari berbagai macam sumber belajar yang tersedia di sekolah.
     Dengan demikian perpustakaan sekolah bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisasi, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, memdidik murid agar dapat menggunakan  dan memelihara bahan pustaka secara efesien.
Idealnya perpustakaan dapat dijadikan tempat atau sarana menggairahkan semangat belajar, menumbuhkan minat baca dan mendorong  membiasakan siswa belajar secara mandiri.

Pembinaan minat baca
       Perlu kita ketahui bahwa minat baca adalah suatu keinginan atau kecenderungan hati terhadap bacaan. Bahan bacaan atau koleksi perpustakaan yang diminati seseorang atau sekelompok seseorang dalam masyarakat adalah yang mengandung manfaat, nilai, yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pembaca yang bersangkutan. Nilai dan manfaat yang dikehendaki tersebut sesuai dengan kebutuhan. Kemudian nilai dan manfaat itu dapat menambah pengetahuan, memberikan kesenangan (hiburan), memberikan rasa kepuasan, bahkan rasa bangga terhadap dirinya sendiri. Untuk mengembangkan minat baca, kesenangan membaca, harus dilakukan secara terus menerus, juga diperlukan ketersediayaan bahan bacaan yang memadai bahan jumlah, jenis, dan mutunya.
       Membaca adalah salah satu modal utama dalam membangun masa depan yaitu mempersiapkan generasi terdidik, yang dibekali ilmu pengetahuan, keterampilan, dan berwawasan luas. Kemudian untuk menciptakan generasi yang terpelajar, dan berbudaya yang tinggi selain memerlukan tekat, semangat, kerja keras dan kegiatan yang terus menerus yang dilakukan, juga memerlukan waktu, perhatian, kesungguhan, kesabaran dan keuletan bersama. Sudah saatnya kita sekarang mulai mengembangkan budaya membaca dan budaya tulis pada diri kita masing-masing, artinya selain membiasakan diri menggunakan waktu luang dan mengisikan waktu bacaan yang baik, juga mencoba untuk menulis hal-hal yang dikuasai dan bermanfaat, baik diri sendiri maupun orang lain. Tulisan itu bisa dalam bentuk artikel, karangan, buku dan sebagainya yang kemudian bisa dibaca oleh khalayak umum dan memberikan manfaat.
       Minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca. Minat baca ditunjukkan dengan keingninan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca. Orang yang memiliki minat membaca yang tinggi senantiasa mengisi waktu luang dengan membaca. Orang yang demikian senantiasa haus terhadap bahan bacaan. Minat membaca sangat berpengaruh terhadap ketrampilan membaca. Membaca adalah kegiatan yang dilakukan  berupa penerjemahan simbol atau huruf ke dalam kata dan kalimat yang memiliki makna bagi seseorang[5].
       Tujuan umum orang membaca adalah untuk mendapatkan informasi baru. Dalam kenyataannya terdapat tujuan yang lebih khusus dari kegiatan membaca, yaitu:
a. Membaca untuk tujuan kesenangan. Termasuk dalam kategori ini adalah membaca novel, surat kabar, majalah, dan komik. Menurut David Eskey tujuan membaca semacam ini adalah reading for pleasure. Bacaan yang dijadikan obyek kesenangan menurut david adalah sebagai “bacaan ringan”.
b. Membaca untuk meningkatkan pengetahuan seperti pada membaca buku-buku pelajaran buku ilmiah pengetahuan. Kegiatan membaca untuk meningkatkab pengetahuan disebut juga dengan reading for intellectual profit.
c. Membaca untuk melakukan suatu pekerjaan, misalnya para mekanik perlu membaca buku petunjuk, ibu-ibu membaca booklet tentang resep masakan, membaca prosedur kerja dari pekerjaan tertentu. Kegiatan membaca semacam ini dinamakan dengan reading for work.

Meneladani tokoh gemar membaca
        Perlu kita pahami peradaban islam bisa berkembang dengan pesat karena diawali dengan membaca. Tidak mungkin seorang ulama yang belajar pada gurunya tanpa melalui menulis dan membaca terlebih dahulu. Manusia yang pertama kita teladani terlebih dahulu adalah Nabi Muhammad Saw, karena pada diri beliaulah ada suri tauladan yang baik bagi kita sebagai ummatnya. Ketika beliau mendapatkan wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah Swt, Rasulullah dibimbing dan diperintahkan untuk membaca oleh malaikat jibril. Karena dengan mengawali membaca maka hal yang belum diketahui menjadi tahu, dan yang salah menjadi benar. Begitu pula dengan sahabat-sahabat beliau yang senantiasa tekun belajar dan ulama’ yang termasyhur karena ilmu yang dimilikinya dari membaca.
      Kemudian ada tokoh barat (non muslim) seperti Thomas Alva Edison. Ilmuan yang satu ini terkenal sebagai penemu lampu bohlam. Rupanya, salah satu faktor yang turut mengantarkan Thomas Alva Edison pada kesuksesannya yaitu kegemarannya dalam membaca buku.
Tokoh barat yang kedua adalah Maxim Gorky. Tokoh yang kedua yaitu merupakan seorang penulis cerita pendek dan novel asal Rusia. Lahir di tengah keluarga dengan latar belakang sosial kelas bawah, Maxim Gorky mengenyam pendidikan sekolah hanya selama beberapa tahun yang sangat singkat. Pada umur 8 tahun, ia sudah harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.
Bekerja sebagai pencuci sayuran, Gorky kecil diperkenalkan baca tulis oleh seorang juru masak di tempatnya bekerja. Sejak saat itu, membaca buku menjadi kegemaran dan minat dalam hidupnya. Minatnya dalam membaca buku tersebut mengantarkannya pada pencapaian besarnya, yakni menjadi seorang penulis novel dan cerita pendek yang sangat terkenal.
Tak diragukan lagi, buku menjadi salah satu faktor yang krusial dalam membentuk intelektualitas, prinsip, dan sikap hidup seseorang. Jika dirunut secara panjang hingga ke ujung, maka buku pada akhirnya menjadi faktor yang menentukan perubahan dunia.

Ayo merubah dunia dengan membaca
       Dengan kita sadar bahwasanya membaca adalah segala kebutuhan yang mendasar, tentunya harus lebih tekun dan giat lagi dalam membaca. Baik membaca informasi melalui media cetak atau elektronik maupun membaca buku sebagai tambahan ilmu pengetahuan. Terlebih kita sebagai muslim yang baik, tentunya membaca dan membaca yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan dan pada orang lain.

Refrensi
Darmono, Perpustakaan sekolah pendekatan aspek manajemen dan tata kerja. Jakarta: PT.            Grasindo, 2007
Sutarno. Manajemen perpustakaan suatu pendekatan praktis, Jakarta: CV. Sagung Seto, 2006
Soedibyo, Noerhayati. Pengelolaan Perpustakaan Jilid 2. Bandung: P.T. Alumni, 1989




[1] Darmono, Perpustakaan Sekolah Penedekatan Aspek Manajemen Dan Tata Kerja, (Jakarta: PT Grasindo , 2007), hlm. 215.
[2] Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an Terjemah Per-kata, (Bandung: PT. Syaamil Media, 2005), hlm. 597.

[3]Darmono, Perpustakaan Sekolah Penedekatan Aspek Manajemen Dan Tata kerja, (Jakarta: PT Grasindo , 2007), hlm. 65
[4] D Hlm. 1
[5]Ibid, hlm. 52.

Masa Depanku di Tangan Orang Tuaku



      Nastagfirullahal’adziim, itulah kalimah istigfar yang kita ucapkan ketika melihat berbagai perbuatan tidak terpuji ’penyimpangan sosial’ terjadi ditengah realita masyarakat sekarang yang dapat kita jumpai baik di media elektronik, cetak bahkan secara langsung di depan mata. Mulai dari tindak kriminalitas orang dewasa laki-laki maupun perempuan, dan yang lebih nyaris lagi ‘generasi bangsa’ sekarang, tidak sedikit jumlahnya yang melakukan hal yang serupa bila dibandingkan dengan  penyimpangan sosial orang dewasa. Seperti halnya kasus kriminal anak-anak yang kita ketahui bersama, mulai dari pencurian, konsumsi narkoba, perkelahian antar sekolah, pergaulan bebas, pembunuhan hingga tindakan asusila yang mengakibatkan korban aborsi bertambah dan tentunya masih banyak lagi kasus yang lebih mengerikan. Realita kriminalitas tersebut, tentunya sangatlah mengkhawatirkan nasib bagi generasi bangsa kita kedepannya. Apakah generasi nantinya akan muncul generasi rabbani yang membuat perubahan yang lebih baik menuju peradaban islam, sehingga terciptalah kalimah “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” suatu negara yang lebih baik dan dibawah naungan ridho, ampunan serta perlindungan-Nya, sehingga kehidupan masyarakat menjadi aman,tentram, damai, atau”gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja” (sejahtera) istilahnya  orang jawa. Tapi apakah malah sebaliknya yang berubah menjadi generasi perusak masa depan dari yang baik menjadi buruk, yang mayoritas mengikuti langkah-langkah syaitan sehingga mengundang datangnya adzab dari Allah Swt yang lebih pedih, Naudzubillah min dzalik . Sebagaimana sesuai kalamullah dalam Qs.Ar Rum ayat 41 yang artinya: “ Telah tamapak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembalai (kejalan yang benar). Ayat ini,  menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi tidak lain karena ulah manusia itu sendiri yaitu melakukan pelanggaran, peperangan di luar koridoridor syariat Allah dan dalam peperangan itu manusia membunuh manusia yang oleh Allah Swt dilindungi hak hidupnya, bahkan merusak segala tatanan alam yang ada, karena sedikitnya syariat Allah Swt yang dijalankan oleh kaum tersebut.

Mari Membimbing
       Sedulur…(Saudara) begitu banyak sekali macam-macam penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan ‘generasi bangsayang terjadi di masyarakat kita tanpa ada henti-hentinya. Berbagai solusi sudah dilakukan untuk meminimalisir penyimpangan tersebut, namun tidak pernah bisa untuk menghentikannya. Maka disinilah tugas besar dan letak sebenarnya  urgensi sebagai orang tua (Ayah, ibu kandung dan guru) yang harus prihatin karena memikirkan bagaimana masa depan putra-putri kita menjadi generasi Rabbani, yang terbaik sehingga dapat membawa rahmatallil’alamin di dunia fana’ ini. Sebagaimana pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri, sehingga kita sebenarnya sebagai orang tua dapat mudah menerapkan fungsi manajemen yang di singkat dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) kepada anak kita sepenuhnya. Sehingga dengan menerapkan methode ini, kita dapat mengatur masa depan anak kita yang lebih baik. 
       Dengan mengawali fungsi manajemen yang pertama Planning (Perencanaan), dimana orang tua sudah harus mempunyai rencana yang matang, terkait gambaran kearah manakah masa depan putra-putrinya, yang akan dicapai nanti. Mulai dari menetapkan segala peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan, bagaimana cara melakukannya, kapan dan di mana dilakukan, serta apa saja yang dibutuhkan agar tercapai tujuan dengan maksimal. Lebih ringkasnya perencanaan ini adalah niatnya sendiri kemudian menyiapkan semua kebutuhan anaknya yang akan dicapai. Contoh kecilnya, ada orang tua menyekolahkan anaknya di SD Integral Lukman AL-Hakim Surabaya, karena sebelumnya ia merencanakan masa depan anaknya nanti menjadi seorang guru. Maka dari sejak kecil ia harus di didik, dengan memasukkan anaknya di lembaga pendidikan formal dan nonformal, agar menjadi anak yang cerdas dan terampil.
       Yang kedua dengan organizing (Pengorganisasian), ini adalah lanjutan dari fungsi perencanaan, dimana terjalin hubungan kerja sama antara orang tua dan anaknya dalam rangka  untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk memberikan motivasi berupa pendekatan kasih sayang secara istiqomah, terhadap perkembangan belajar anak. Anak diberikan hak nya, kemudian orang tua juga  memberikan kewajiban terhadap anaknya. Sehingga terciptalah kerja sama yang baik dalam mencapai tujuan yang lebih efektif dan efisien karena dikerjakan bersama-sama. Contoh (Lanjutan) , setelah anak masuk dalam lembaga pendidikan formal dan nonformal, maka orang tua tidak boleh melepaskan dan menghandalkan sepenuhnya pada lembaga tersebut saja, namun partisipasi orang tua juga di utamakan untuk mengetahui perkembangan belajarnya.
   Yang ketiga dengan actuating (Penggerakan), berfungsi untuk merealisasikan hasil dari perencanaan dan pengorganisasian yang sudah dilakukan. Dimana orang tua harus lebih fokus untuk lebih dekat lagi dengan anak  guna mengarahkan, memotivasi, membimbing kemudian menggerakkan anak untuk aktif agar bersungguh-sungguh menjalankan apa yang menjadi kewajibannya (Belajar) sehingga tujuan dari perencanaan awalnya dapat tercapai dengan efektif. Fungsi penggerakan ini, harus dilaksanakan semaksimalnya oleh orang tua hingga anaknya dapat memulai aktifitas belajar sampai tuntas. Karena pada fungsi penggerakan ini, sangat penting untuk menentukan hasil belajarnya baik dari lembaga formal dan nonformal. Jadi tidak salah, apabila orang tua menekankan pada anaknya untuk melaksanakan kewajibannya (Belajar) terlebih dahulu, daripada melakukan hal yang tidak terlalu penting untuk masa depannya.
   Yang keempat dengan controlling (Pengawasan), merupakan bentuk kegiatan mengamati ,mengukur segala aktifitas yang dilakukan anak dan melihat pencapaian hasil dengan membandingkan standar yang di rencanakan sebelumnya.

      Mari kuatkan manajemen keluarga kita
      Sukses tidaknya kegiatan rumah tangga didasarkan pada sistem manajemen yang baik, teratur dan terarah. Fungsi manajemen POAC (planning, organizing, actuating dan controlling) dapat membantu kita dalam membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Selain itu juga perlu adanya komitmen yang tinggi seluruh anggota keluarga untuk mewujudkan visi misi keluarga kita. Perlu diingat, dalam perahu rumah tangga hanya ada satu nakhoda yaitu suami. Istri hanyalah sebagai partner dan asisten untuk membantu terlaksananya tujuan rumah tangga. Kerjasama kedua belah pihak inilah yang nantinya akan menentukan arah rumah tangga yang akan dituju.
Wallahu a'lam Bishowab..


Senin, 19 Mei 2014

Resume Buku Mencetak Kader ( Profil Ustad Abdullah Said)

Resume buku “Mencetak Kader” ini dapat menambah pengetahuan secara pribadi bagi penulis dan wawasan luas tentang organisasi hidayatullah secara luas.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam penulisannya maupun sumbernya. kritikan dan saran yang membangun demi kepentingan bersama.
Buku sejarah berdirinya Hidayatullah

1    Biografi Ustadz Abdullah Sa’id
Ø  Kelahiran sampai masa muda
Nama kecil Ustadz Abdullah Said adalah Muhsin Kahar dilahirkan tepat pada hari proklamasi kemerdekaan R.I. Jum’at, 17 Agustus 1945 di sebuah desa bernama Lamatti Rilau, salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Letaknya berada pada ketinggian sehingga dari desa ini dapat terlihat jelas hamparan pulau-pulau yang ada di perairan Teluk Bone.. Terutama Pulau-pulau Sembilan yang terdiri dari Pulau Kambuno, Pulau Liang-Liang, Pulau Burung Lohe, Pulau Batang Lampe, Pulau Kodingareng, Pulau Katindoang, Pulau Kanalo Satu, Pulau Kanalo Dua dan Pulau Larearea. Pemandangan ke arah hamparan pulau-pulau membuat perasaan agak terbuka atas keterpencilannya kampung ini.
Pada saat kelahirannya, ayahnya, Kyai Abdul Kahar Syuaib menjabat sebagai Imam di Kampung Lamatti yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Panreng (dalam bahasa setempat panreng berarti kuburan). Karena ayahnya seorang ulama yang kharismatik di tempat itu, sehingga keluarganya mendapat tempat tersendiri dimata masyarakat.Ayahnya lebih populer dikalangan masyarakat dengan sebutan Puang Imang,[1] karena cukup lama menjadi imam di kampung itu.Ayahnya tiga kali nikah tapi tidak dengan memadu, menghasilkan 12 orang anak.Ibu Muhsin Kahar bernama Aisyah, lebih dikenal dengan panggilan Puang Ica.Merupakan istri terakhir dinikahi setelah istri pertama dan kedua meninggal dunia. Puang Ica melahirkan empat orang anak semuanya laki-laki: Junaid Kahar (Puang Juna), Lukmanul Hakim Kahar (Puang Luke’)[2]Ketika masih dalam kandungan sempat menjadi bahan perbincangan dikalangan keluarga. Karena usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun sang anak belum juga lahir. Hanya ayahnya yang selalu mengingatkan sang ibu agar tetap bersabar menunggu kelahirannya sampai kapanpun yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Akhirnya bayi yang tadinya mencurigakan itu lahir juga dalam keadaan normal dan sehat layaknya bayi-bayi pada umumnya di sebuah rumah di Kampung Panreng. Untuk pendidikan dasarnya dia sangat tertolong dengan adanya Sekolah Dasar yang waktu itu bernama Sekolah Rakyat didirikan di kampungnya. Di sekolah itulah dia belajar. Namun hanya sampai kelas III, dari tahun 1952 hingga 1954 karena terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya yang tercinta itu mengikuti sang ayah yang pindah ke Makassar.
Ketika itu kondisi keamanan di Sinjai semakin mencekam. Apalagi dengan terbunuhnya seorang anggota polisi yang ditengarai pembunuhnya adalah Zubair Kahar, komandan pemberontak yang saudara kandung Muhsin Kahar.
Ayahnya setiap saat mendapat panggilan untuk diinterogasi sehubungan dengan pembunuhan yang dihubungkan dengan anak kandungnya itu. Itu yang membuat sang ayah merasa terusik sehingga tidak betah lagi tinggal di kampung, memilih hijrah ke Makassar untuk mencari ketenangan.
Ø  Pindah ke Makassar
Ustad Abdullah Said hatinya terasa berat untuk meninggalkan kampung halaman yang telah membesarkannya itu. Betapapun bersahajanya kampung itu namun baginya banyak kenangan indah yang tidak mudah dilupakan.Letak desanya yang ada pada ketinggian dengan pepohonan yang rimbun selalu mengalirkan kesejukan.
Kini dia harus berangkat meninggalkan kampung yang telah memberinya warna hidup baik fisik maupun jiwa, menuju kota Makassar, 227 Km dari kampungnya. Sebuah kota besar yang sudah lama dikenal namanya namun belum pernah hidup didalamnya. Informasi yang sering didengarnya bahwa kehidupan perkotaan adalah cenderung kejam. Tapi dibalik itu sering pula menangkap cerita bahwa di kota besar juga kita dapat menjadi tokoh besar sesuai yang ia harapkan.
Memprihatinkan, memang, kehidupan yang dijalaninya pada waktu bermula tiba di Ibu Kota Propinsi Sulawesi[5]. Apa boleh buat terpaksa harus dijalaninya. Maklum orang tua tidak punya pekerjaan yang dapat mendatangkan uang. Tetapi karena orang tuanya seorang ulama yang kharismatik sehingga anggota masyarakat di lingkungan yang dia tempati yang kebanyakan berasal dari kampungnya, Sinjai, sehingga sang ayah ditempatkan yang proposional.
Di Kampung Malimongan Baru (Jalan Pong Tiku dan sekitarnya sekarang) dipercayakan mengimami sebuah mesjid yang dikenal dengan nama Mesjid Lailatul Qadri sambil memberi tuntunan agama di mesjid itu. Lewat kegiatan ini keperluan hidup agak teratasi namun sangat jauh dari cukup. Untung sang Ibu sangat giat mencari nafkah untuk membiayai anak-anak yang sekolah. Baru anak yang tertua, Djunaid Kahar yang telah berumah tangga.Tapi belum sanggup juga membantu.Apalagi di rumah yang ditempati itu ternyata banyak juga keluarga yang nebeng.Keluarga dari kampung yang belum mempunyai pekerjaan tetap dan belum memiliki rumah tempat tinggal.Rumah ini dijadikan tempat transit sambil mencari lowongan kerja.
Pemandangan baru yang dia saksikan yang sangat tidak mengenakkan perasaannya di Makassar adalah seringnya ada orang yang mabuk-mabukan dengan teriakan-teriakan yang tidak sedap didengar telinga. Mereka berkumpul di satu tempat yang disebut lontang[6]. Ditempat itu mereka minum ballo[3] beramai-ramai sambil makan baluta[8], atau ikan, ayam atau bebek yang dipanggang. Sering juga terjadi perkelahian antara kelompok anak muda yang hanya disebabkan karena persoalan sepele, karena ketersinggungan perasaan atau karena persoalan perempuan, dan lain-lain.
Ø  Bintang Kelas
Setelah pindah ke Makassar, Muhsin Kahar meneruskan sekolahnya di kota itu. Ia diterima duduk di Kelas IV Sekolah Rakyat No 30. Dijalaninya hingga tahun 1958.Di SR ini dia selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran termasuk pelajaran menggambar. Padahal semestinya murid-murid yang berada di kota lebih unggul dibanding murid-murid dari pedalaman karena pelajarannya lebih teratur dan lebih tinggi materinya. Tapi kenyataannya tidak demikian. Murid-murid yang lahir dan besar di kota dikalahkannya semua. Dia pernah mengangkat nama sekolahnya karena ketika diadakan pertandingan menggambar antar sekolah dasar se Kota Besar Makassar (KBM), hasil coretannya dinilai terbaik. Ketika mengikuti ujian akhir Sekolah Rakyat dia mendapatkan nilai tertinggi.Sehingga sangat memungkinkan memilih sekolah favorit.Dia tidak memilih sekolah umum tapi mengincer sekolah agama yakni Pendidikan Guru Agama Negeri 6 Tahun (PGAN 6 tahun).Dia memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikannya karena disamping mempelajari agama juga termasuk sekolah yang sangat didambakan waktu itu.Karena tamatan sekolah ini tidak perlu lagi melamar kerja, langsung ditempatkan.
Di sekolah ini dia juga selalu menjadi bintang kelas dan terkenal sebagai siswa yang pandai pidato.Disamping itu dia juga selalu menjadi ketua kelas hingga kelas VI.Dalam pertemuan-pertemuan selalu dia dipercayakan memimpin.Memang sejak duduk di bangku PGAN 6 tahun itu dia sudah dikenal sebagai siswa yang berpengetahuan luas.Mungkin karena kerajinannnya membaca.Tunjangan ID-nya setiap bulan memang hampir tidak ada yang tersisa, semua dibelikan buku-buku.Tidak seperti teman-temannya yang menjadi prioritas adalah pakaian untuk penampilan.
Muhsin Kahar sangat kurang perhatiannya kepada pakaian.Sehingga sering dia dengan tidak malu-malu menggunakan sarung ke sekolah kalau celananya sedang dicuci dan belum sempat kering.Dia juga akrab dengan kopiah hitam di kepalanya. Teman-temannya sering ketawa sinis melihatnya, karena tidak lazim, tapi dia cuek saja termasuk terhadap cewek-cewek manis. Karena tidak ada juga teman wanitanya yang akrab.Dia tidak pusing dengan kesinisan teman-temannya.Soalnya gurunya diam-diam saja menyaksikan keanehan itu. Mungkin karena dia termasuk siswa yang sangat berprestasi dari segi pelajaran dan sektor-sektor lain. Lagi pula peraturan tentang pakaian disekolah tidak seketat sekarang.
Hal lain yang menyenangkan dia belajar di sekolah ini karena dapat berkenalan dengan siswa-siswa yang berasal dari beberapa daerah seperti Ternate, Manado, Gorontalo, Sangir Talaud, Sulawesi Tenggara dan siswa-siswa yang berasal dari Sulawesi Selatan.
Ø  Meninggalkan Bangku Kuliah
Setelah lulus dari sekolah lanjutan PGA Neg. 6 tahun juga dengan nilai tinggi. Sehingga mendapat tugas belajar[4] ke IAIN[5](Institut Agama Islam Negeri) Alauddin Makassar. Hanya satu tahun mengikuti kuliah lalu berhenti. Dia merasa tidak ada tambahan ilmu yang berarti yang didapat selama kuliah.Semua materi kuliah yang diberikan dosennya telah dibacanya. Akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya jauh tidak seimbang dengan apa yang telah dikorbankan. Kalau sekedar untuk mendapatkan predikat sarjana bukan itu yang dia perlukan.Walaupun pada waktu itu titel sarjana sangat mahal, bisa membuat orang besar kepala.Menurut dia lebih tepat kalau aktif di organisasi, giat berda’wah dan gencar membaca.Itulah yang menjadi alasannya, sehingga meninggalkan bangku kuliah.
Ketika dia telah menjadi pimpinan pesantren yang telah memiliki cabang di seluruh Indonesia, sering dia mengungkapkan bahwa, “Seandainya saya dulu meneruskan kuliah sampai sarjana, paling banter hanya menjadi kepala kantor Departemen Agama di Sulawesi Selatan, iutpun kalau memenangkan pertarungan, bergelut dengan urusan yang bertentangan dengan hati nurani, sebagaimana yang sering diungkapkan rekan-rekan bekas teman sekolahnya yang menduduki jabatan itu. Terusik juga perasaannya kalau teman-teman sekuliahnya menganggap dia sombong tidak mau mengikuti kuliah karena telah mengetahui apa yang dikuliahkan oleh dosen-dosen. Tapi karena dia memiliki pandangan sendiri terhadap dunia perkuliahan yang banyak sekali menyia-nyiakan waktu berbincang ngalor ngidul antara teman-teman mahasiswa dan mahasiswi yang tidak ada hubungannya dengan perkuliahan, bahkan terkadang mengarah kepada hal-hal yang sebenarnya sangat tidak wajar dibicarakan. Apalagi sebagai mahasiswa-mahasiswi yang menyandang predikat mahasiswa-mahasiswi Islam.Sehingga dia berfkir untuk amannya dia memilih berhenti dari kegiatan kuliah dari pada setiap hari menderita batin.
Dia merasakan apa yang diperolehnya selama ini lewat organisasi, membaca buku-buku, mengikuti ceramah-ceramah di mesjid dan belajar langsung kepada ulama-ulama serta berkutat dalam dunia da’wah, lebih banyak dari apa yang diperoleh lewat bangku kuliah. Apalagi kalau dosennya hanya menggunakan gaya diktator alias membuat dan menjual diktat.
Ø  Organisasi Pelajar
Kekeranjingannya berorganisasi tidak tanggung-tanggung.Dia tidak ingin hanya namanya yang tercantum dalam sturktur organisasi tanpa terjun dan berkutat didalamnya.Pada setiap organisasi yang dimasukinya dia selalu memegang jabatan yang dia minati yakni Bahagian Da’wah dan Pengkaderan, sehingga mendorongnya untuk sibuk.Dalam setiap pertemuan selalu saja ada ide dan gagasan brilian yang dilontarkan. Sehingga manakala ada pertemuan dan dirinya tidak hadir, peserta pertemuan pasti mencarinya karena pertemuan terasa hambar tanpa dia.Ketika duduk dibangku PGA Negeri 6 tahun Makassar, dia memilih organsasi pelajar PII (Pelajar Islam Indonesia ) sebagai wadah tempat berkiprah. Dia duduk sebagai pengurus ranting disekolahnya dan seterusnya ke level wilayah. Organisasi yang dimasukinya ini dikenal sebagai organisasi pelajar paling militan dan mati-matian menentang Partai Komunis Indonesia (PKI).Padahal PKI waktu itu menguasai pemerintahan.Sehingga organisasinya itu selalu menjadi sasaran tembak partai yang tengah merajut hegemoni politik untuk berkuasa itu.
Ini yang membuat dia semakin merasa mantap berkiprah di organisasi ini. Suatu waktu diawal tahun 1965 ketika seluruh pengurus PII se-KBM (Kota Besar Makassar) mengadakan training bertempat di Perguruan Islam Datumuseng[12] penulis dan Ustadz Muhsin Kahar termasuk peserta training itu. Ketika salah satu tokoh PII Andi Baso Amir (adik kandung Jenderal M. Jusuf Amir) memberi ceramah tiba-tiba tempat training dihujani batu. Yang melakukan tidak lain adalah anggota-anggota Pemuda Rakyat (organisasi pemudanya PKI) dan CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia –organisasi mahasiswa milik PKI).Andi Baso Amier yang dikenal sebagai sastrawan dan pembicara vokal berkata, “Biarkan suara itu berbunyi dengan suaranya sendiri, kita tak usah gentar”. Itu menunjukkan betapa seru perseteruan PII dengan PKI .Anggota PII yang bertugas sebagai keamanan sudah siap-siaga menghadapi pengganggu itu.Kejadian yang serupa dengan ini sering sekali terjadi hampir setiap ada pertemuan yang diadakan PII dan HMI.Sering juga ada coretan di tembok-tembok yang dibuat oleh mereka sendiri yang berbunyi; Bubarkan Pemuda Rakyat dan CGMI.Apalagi saat menjelang terjadinya Gerakan Tiga Puluh September (G30S)[6]
.
Keterlibatannya di organisasi ini dapat dirasakan hikmahnya karena telah membentuk jiwanya menjadi militan dan cekatan berorganisasi. Juga dapat berkenalan dekat tokoh-tokoh penggerak generasi muda di daerahnya seperti Zoubair Bakry, Yamin Amna, Tanri Abeng, Djamaluddin Latief, Aziz Aty, dll. Dan tokoh-tokoh berlevel nasional seperti Hussein Umar Sastranegara (PII Pusat), Utomo Dananjaya, Husni Thamrin, Ahmad Djuwaeni, dll.
Ø  Menambah Ilmu di Jawa
Usai pendidikan muballigh di Makassar Muhsin Kahar berangkat ke Surabaya dengan mengajaka Usman Palese untuk seterusnya ingin mengikuti pendidikan di Pondok Modern Gontor.Memang keduanya sempat mendaftar dan ikut belajar tapi hanya seminggu lalu pindah ke PERSIS Bangil.Di Pesantren Bangil juga hanya 3 bulan. Di Pesantren yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Qadir Hassan ini, tidak banyak belajar karena Ustadz Mansyur Hassan ( adik kandung Ustadz Abdul Qadir Hassan, putera Ustadz Ahmad Hassan), senang mengajak diskusi bahkan selalu ditugaskan membawakan khutbah Jum’at dan ceramah-ceramah di Mesjid Persis.
Selama di Pesantren Bangil Ustadz Muhsin Kahar banyak di bantu oleh sepupunya di Surabaya, Jaksa Arsyad Hasan, SH (mantan kepala Kejaksaan Negeri di beberapa kota Jawa Timur, seperti Nganjuk, Bangkalan, dll, terakhir diangkat menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di NTB tetapi minta pensiun dini). Dia sangat senang jika berada di tempat saudaranya ini karena Puang Aresya, demikian panggilan akrabnya dikalangan keluarga, senang sekali berdiskusi masalah hukum dan politik dan juga hal-hal yang menyentuh agama. Disamping itu kemanakan-kemanakannya di tempat itu, anak Pak Arsyad: Makmun, Bustamin, Sahrah, Nasrah, Halda, Hurlina semuanya selalu bermanja-manja kepadanya.Akhirnya pesantren yang banyak menekuni masalah fikhi ini ditinggalkan dan menuju Jakarta.Di Jakarta bertempat tinggal di Kali Baru, Tanjung Periok. Ditempat yang banyak dihuni oleh orang Bugis ini bersama-sama Ustadz As'ad El-Hafidy mengadakan kursus muballigh melibatkan tokoh-tokoh Islam yang ada di Kali Baru seperti Pak Ramli Ya’kub (paman Ustadz Muhsin Kahar), Nurdin Djafar (sepupu) dan Achmad Dahlan Abdullah (kemanakan) untuk menjadi pengurus. Banyak anak-anak remaja ataupun yang sudah tergolong dewasa jama’ah Mesjid Nurul Jihad Kali Baru mengikuti kursus ini. Diantaranya Marhumah Hasyim (kemanakan), Nurhilaliyah Nurdin (kemanakan), dll. Cukup berhasil kursus muballigh itu menelorkan muballigh dan muballighat muda.
Ustadz Muhsin Kahar kembali lagi ke Makassar, kota Anging Mammiri yang selalu dirindukan. Kembali menggabung dengan kegiatan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah, samping Mesjid Raya Makassar. Mulailah diprogram pengkaderan yang lebih intens untuk melibatkan sejumlah anak-anak binaan Ustadz Ahmad Marzuki Hasan dalam upaya pemberantasan kemaksiatan yang tengah marak di kota Makassar dan sekitaranya. Yang paling mencolok daya rusaknya waktu itu adalah penjudian dalam bentuk lotere.
Pengkaderan yang dimaksudkan ini diselenggarakan di Maros (30 Km sebelah utara Makassar) dengan melibatkan puluhan anak-anak muda.Walaupun sangat singkat waktunya, hanya seminggu (1-8 Agustus 1969) tapi frekuensi penggemblengannya dilakukan siang dan malam.Instrukturnya disamping Ustadz Muhsin Kahar sendiri juga Kyai Ahmad Marzuki Hasan, Drs.H.Mahyuddin Thaha[7]. Dalam penyelenggaraan kursus ini sulit dilupakan jasa-jasa dari orang-orang seperti Bapak Usman Ali (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Maros), H. Abdul Latif Daeng Mangngatta (pedagang kain dan Pengurus Muhammdiyah), Abdurrasyid Tata (Kepala Desa Aliritengngae, Maros) Burhanuddin Hamid (Panitera Pengadilan Negeri Maros), Drs. Mustafa Rauf (Pegawai Kantor Gubernur Sulsel), Zaenal Abidin (pemuda Muhammadiyah), dan lain-lain. Peserta diarahkan untuk dapat melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahyi munkar sebagaimana mestinya.Ujung-ujungnya adalah membakar semangat anak-anak muda yang tengah dilanda puber aqidah itu untuk memberantas penjudian yang tengah marak di Makassar dan sekitarnya.Dalam penutupan acara itu peserta menyanyikan lagu Panggilan Jihad, yang lagi tenar waktu itu.
Ø  Mengganyang Judi
Penjudian dalam bentuk lotre yang dinamakan lotto, singkatan dari lotre totalisator ini, sangat besar daya rusaknya kepada masyarakat.“Kalau penjudian gaya baru ini dibiarkan berlanjut, masyarakat akan mengalami kehancuran yang sulit dibayangkan. Karena disamping hartanya akan habis ditelan judi, juga moralnya mengalami degradasi yang luar biasa. Mengapa tidak? Berbarengan hadirnya judi dalam bentuk lotre ini, muncul pula peramal-peramal dadakan diseluruh sudut-sudut kota yang untaian-untaian kalimatnya dikutip dari mimpi semalam kemudian dituang dalam bentuk tulisan lalu penjudi memberi tafsir terhadap mimpi itu.
Hasil tafsir itulah dijadikan pegangan untuk memenangkan undiannya setiap malam dengan terlebih dahulu menebak salah satu angka atau lebih dari 49 angka.Tokoh peramal waktu itu seorang haji bernama Haji Sulaimana.Ini menyeret masyarakat kecil yang ingin segera merubah nasib dengan instan ke lembah kesesatan”.Demikian sering diungkapkan Ustadz Muhsin Kahar dan muballigh-muballigh di Makassar pada umumnya kala itu. Dalam salah satu khutbahnya yang disampaikan pada hari Jum’at, 14 Februari 1969 di mesjid Nurul Jama’ah, Jalan Lamuru, Bontoala-Makassar menyatakan, “Negara kita sekarang ini sudah sangat rusak. Karena masyarakat tidak lagi memperhatikan kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar. Padahal ini juga kewajiban mutlak, sama halnya dengan kewajiban shalat, kewajiban puasa Ramadhan, kewajiban zakat. Akibatnya, segala bentuk kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran agama berjalan mulus.Untuk itu masyarakat perlu digembleng terus menerus untuk berani menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.Karena orang yang terlibat pelanggaran, seperti menjudi, itu berdosa karena perbuatannya.Tapi kita juga berdosa kerena turut menyaksikan perbuatan itu lalu tidak menegur atau mencegahnya.
Akhirnya tibalah pada titik puncak panasnya hati pemuda-pemuda Islam di Makassar, seperti panasnya kota Anging Mammiri waktu itu, ingin menghanguskan segala bentuk kemaksiatan, terutama judi. Mereka tidak lagi dibayangi rasa takut terhadap resiko, walaupun penjudian dalam bentuk lotre ini dikordinasi oleh pemerintah kota dibawah kekuasaan walikotanya yang cukup populer dan gigih membangun Kota Makassar dan melakukan peruabahan-perubahan, Muhammad DaEng Patompo. Otomatis aparat keamanan berada di belakangnya. Pertemuan perencanaan pengganyangan ini diadakan di lantai tiga menara Ta’mirul Masajid, mesjid milik Mihammadiyah Rabu (malam), 27 Agustus 1969, diarahkan langsung oleh Ustadz Muhsin Kahar dan H.Mahyuddin Thaha Dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Ustadz M.Arsyad Palantei.
Terjadilah peristiwa pengganyangan judi itu dengan modal kader-kader yang selesai digembleng di Maros, kemudian melibatkan pemuda-pemuda Muhammadiyah di Makassar. Pelaksanaannya jatuh pada Kamis (malam), 28 Agustus 1969. Sebelumnya pada Kamis pagi ditugaskan Ustadz Muhsin Kahar seorang kader mengantar secarik kertas untuk menyampaikan kepada beberapa pimpinan Pemuda Muhammadiyah tentang kepastian waktu pelaksanaan pengganyangan itu.
Peristiwa itu bertepatan dengan berlangsungnya Muktamar PII (Pelajar Islam Indonesia) yang ke- 12 di Makassar.Maksudnya Ustadz Muhsin Kahar ingin melibatkan peserta Muktamar PII namun tidak berhasil karena ketika Muhammad Asad Kahar (adik kandung Muhsin Kahar) mencoba mengkordinir anak buahnya yakni PII dari Labbakang- Pangkep, M.Zoubair Bakry (Ketua Pimpinan Wilayah PII Sulsel) langsung mencegatnya. M.Zoubair Bakry khawatir kalau-kalau nantinya tokoh-tokoh yang tengah hadir di Makassar waktu itu yang notabene adalah mantan orang-orang partai Masyumi yang telah dikubur pemerintah seperti Prof. K.H. Abdul Ghaffar Ismail ( muballigh kondang dan ulama besar, yang terkenal dengan Pengajian Malam Selasa-nya yang sudah berlangsung selama setengah abad di Pekalongan), Prawoto Mangkusasmito (mantan Ketua Masyumi dan mantan Wakil Perdana Menteri pada kabinet Wilopo 1952-1953), EZ. Muttaqin (Ketua GPII-Gerakan Pemuda Islam Indonesia) – dikait-kaitkan dengan peristiwa pengganyangan itu.

Kendatipun tidak terlaksana sebagaimana yang diinginkan; karena tidak semua pemuda yang mendapat instruksi melaksanakan pengganyangan itu.Ada yang dicegat karena sempat bocor kepada orang-orang tua yang tentu saja banyak perhitungan.Hanya sebagian kecil yang tetap meneruskan niatnya, yakni penghuni asrama Muhammadiyah Jalan Bandang dan anak-anak disekitar Jalan Andalas, Jalan Bandang, Jalan Diponegoro.Namun hasilnya cukup memadai.Berhasil mengobrak abrik tempat penjualan kupon dan mencederai sebagian penjualnya yang terdiri dari orang-orang Cina.Tapi yang lebih penting Lotto yang sangat merusak terutama masyarakat kecil diberhentikan oleh pemerintah.Seusai pengganyangan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulselra, K.H.Muhammad Aqib dipanggil menghadap oleh Penanggung Jawab Keamanan di Kota Besar Makassar untuk mempertanggung jawabkan perbuatan itu yang menurut dugaan digerakkan oleh Muhammadiyah karena terbukti banyak sekali anak-anak Muhammadiyah yang terlibat. Pak Kyai membantah dengan alasan, “Ini bukan gerakan Muhammadiyah, kalau Muhammadiyah yang begerak tidak begini bentuknya. Muhammadiyah adalah organisasi massa yang besar, banyak sekali anggotanya. Makassar ini akan tenggelam kalau Muhammadiyah yang bergerak. Yang benar adalah gerakan ini dilakukan oleh anak-anak muda yang sangat jengkel melihat maraknya perjudian.Hanya mungkin banyak anak-anak Muhammadiyah yang terlibat didalamnya.Makanya sebelum Muhammadiyah bergerak, hentikanlah cepat perjudian ini”.
Peristiwa yang menghebohkan Sulsel itu membuat ruang tahanan Kodim 1408 Makassar penuh sesak.Banyak sekali anggota Pemuda Muhammadiyah yang ditahan. Bahkan beberapa tokoh seperti Kyai Ustadz Ahmad Marzuki Hasan, K.H.Fathul Mu’in Daeng Maggading , Ustadz M.Arief Marzuki dan ayahanda Ustadz Muhsin Kahar sendiri, Kyai Abdul Kahar.Bahkan seterusnya ada yang dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dan dipengadilankan seperti: M.Thahir Fatwa (guru SD Muhammadiyah asal Bulukumba), M.Munzir Rowa (guru SD Muhammadiyah asal Bone), M.Jalil Thahir (aktivis Pemuda Muhammadiyah asal Sidrap), Abdurrahman (pemuda Muhammadiyah, asal Sinjai).
Informasi dari penjara yang disampaikan Ustadz Abdul Jalil Thahir, Muhsin Kahar harus meneruskan perjuangan, jangan sampai menyerahkan diri. Kami di penjara insya Allah akan bersabar bagaimanpun siksaan yang kami rasakan. Kami anggap sebagai lanjutan pengkaderan.
Demikianlah resume buku mencetak kader ini kami susun, semoga bermanfaat bagi kita    semua khususnya penulis sendiri. Resume buku “Mencetak Kader” ini sebagai menambah pengetahuan secara pribadi bagi penulis dan wawasan luas tentang organisasi hidayatullah secara luas.
Daftar pustaka
Manshur Salbu, Mencetak Kader, Perjalanan Hidup Ustadz Abdullah Said Pendiri Hidayatullah, Surabaya: Hidayatullah Publishing, 2009

[1]Panggilan kehormatan kepada imam di kampung
[2]Menurut  kebiasaan orang bugis, nama-nam selalu disingkat
[3]Bahasa Mks yang berarti arak. Kalau arak yang dibuat dari beras yang difermentasi bernama ballo ase. Yang diambil dari nira aren bernama ballo inru. Dan yang diambil dari nira nipah disebut ballo nipa
[4]Bea siswa menurut istilah sekarang.
[5]Universitas Islam Negeri (UIN) sekarang.
[6]Gerakan yang dilakukan partai komyunis indonesia pada 30 september 1965 membunuh secara biadab Jenderal Achmad Yani.dkk kemudian memasukkan kedalam lubang sempit di daerah yang disebut Lubang Buaya.
[7]Mantan Ketua Biro Kader PB.PII Pusat, priode Ahmad Djuwaini.